Minggu, 30 Juli 2017

Contoh Membangun Kesan Visual dalam Desain Rumah

Setiap desain rumah pada dasarnya dirancang sesuai fungsinya ibarat adagium dalam rancang bangunan yang sering disebut-sebut sebagai berikut: "bentuk menyesuaikan dengan fungsinya." Di samping itu, ada satu hal lagi yang diperhatikan dalam merancang bangunan, yaitu faktor keamanan. Kedua faktor tersebut telah menjadi semacam sopan santun dalam menciptakan desain rumah. Keduanya diolah, dikembangkan, direkayasa, dan disempurnakan dengan memperhatikan unsur-unsur keindahan untuk menciptakan sebuah karya desain, sehingga jadilah seni desain yang tidak hanya beretika, tetapi juga mempunyai nilai estetika.

Unsur Estetika Inderawi dalam Desain Rumah

Saat kita mengkaji sebuah bangunan, kita mulai dengan mengamati fasadnya, yaitu sisi wajah depan bangunan dan mengidentifikasi unsur-unsur estetika yang membangun keindahan keseluruhan desainnya. Menurut Harry S. Broudy, hal pertama yang kita perhatikan dari sebuah bangunan adalah unsur-unsur yang secara pribadi menarik kesan inderawi kita, yaitu: garis, bentuk, tekstur, warna, pencahayaan (gelap terang), dan ruang.

Kesan visual desain rumah
Kesan visual yang bagus tercipta ketika kita memandang fasad Armada House rancangan Keith Baker 

Garis

Garis terdiri dari titik-titik yang bersambung tanpa putus yang mampu dibuat dengan menggunakan alat tulis. Untuk menjadikan suatu kesan pada bangunan, mampu diaplikasikan garis-garis tipis atau tebal, lurus atau bersudut-melengkung, bergerigi atau rata, diagonal atau horisontal-vertikal, ringan atau masif, dan sebagainya. Dalam desain rumah misalnya, kesan garis-garis sering ditonjolkan dengan materi bangunan yang dipilih, ibarat garis-garis acak yang terbentuk pada kerikil alam, kisi-kisi pemanis, atau dinding kaca. Kesan garis mampu juga muncul dari rancangan bentuk dan massa (massing) bangunan sehingga nampak menjulang/vertikal atau datar/horisontal. Dalam desain interior rumah, pola-pola garis vertikal atau tegak pada dinding akan membuat kesan ruangan terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan ruangan dengan dinding yang bercorak kembang-kembang.

Bentuk

Bentuk diciptakan dari garis tertutup. Bentuk dua dimensi digambar pada permukaan yang rata ibarat kertas atau papan tulis, sedangkan bentuk tiga dimensi mempunyai ruang. Bentuk dua dimensi berupa segi empat (bujur sangkar, jajaran genjang, dan persegi panjang), segi tiga (sama sisi, sama kaki, siku-siku), lingkaran, dan sebagainya. Bentuk tiga dimensi mampu kubus, bola, elips, limas, dan sebagainya. Dengan menggunakan perspektif, gambar desain dua dimensi sebuah rumah ditampilkan ibarat dalam bentuk tiga dimensi.

Tekstur

Tekstur merupakan penampilan permukaan yang dapat kita rasakan dari sebuah objek dan memang diciptakan untuk selalu dinilai dengan sentuhan. Walau demikian, sekali kita menyentuh dan mencicipi sebuah benda biasanya kita akan dapat menilai suatu tekstur dengan melihatnya saja dan mampu menggambarkan bagaimana rasanya. Bahan bangunan mampu dipilih untuk mendapatkan daya tarik visual ini. Misalnya, materi yang keras dan bergerigi mampu dipakai untuk membuat kesan bernafsu pada bangunan rumah. Kayu ukir dengan tekstur halus mampu dipakai untuk membuat rumah berkesan ringan dan terbuka. Tekstur juga mampu dibuat dengan teknik layering (penumpukan) bentuk-bentuk.

Yang perlu diperhatikan, terlalu banyak tekstur mampu mengganggu kesan visual itu sendiri. Untuk itu, pengembangan tekstur seyogyanya dilakukan selalu dengan pertimbangan kenyamanan suasana.

Warna

Warna ialah sebuah elemen persepsi visual yang berafiliasi dengan bagaimana mata kita menangkap cahaya. Untuk membedakan tiap persepsi ini, kita menamakannya merah, biru, kuning, dan sebagainya. Setiap arsitek memanfaatkan warna dalam memilih materi bangunan dengan mempertimbangkan efek warna-warna tersebut pada setiap unsur konstruksi bangunan. Begitu pula para desainer interior selalu mempertimbangkan apakah akan memakai warna yang membumi dan alami ibarat kayu, batu, batu-bata, marmer, warna hangat dengan nada warna-warna kuning, sampai mengeksplorasi aneka macam warna yang ada.

Pencahayaan (gelap terang)

Gelap terperinci merupakan persepsi relatif kita terhadap cahaya. Konsep pencahayaan ini juga dipakai untuk menangkap ketertarikan visual pada sebuah bangunan. Kesan ini mampu dibangun dengan sensasi ruangan berkesan dalam, suasana teduh terik atau ceria suram (gloomy) dengan permainan bayangan. Terowongan atau lorong sempit misalnya akan menampakkan kesan gelap, sedangkan ruang yang luas dan datar akan kelihatan terang. Pemakaian beling film yang gelap juga akan menciptakan ilusi ruangan yang gelap pada bangunan rumah.

Ruang

Ruang ialah posisi relatif sebuah objek tiga dimensi terhadap yang lainnya. Ruang ialah pertimbangan paling penting dalam mendesain rumah alasannya ialah keseluruhan bangunan harus sesuai dengan fungsinya. Ukuran ruangan, tinggi langit-langit, jumlah orang yang akan menempati, padatnya acara dalam ruang bangunan tersebut, dan mudahnya terusan masuk dan keluar ruangan harus seimbang. Keindahan sebuah bangunan dapat dilakukan dengan memvariasikan lebar dan tinggi ruangan. Ruang juga berafiliasi dengan jumlah lahan yang akan ditempati bangunan, yang sisanya akan disebut lahan atau ruang terbuka.

***

Dengan memadukan keempat unsur inderawi di atas, kita membangun kesan visual dalam desain rumah. Dari sinilah titik tolak bagaimana sebuah bangunan akan terwujud nanti setelah dibangun. Untuk membuat desain rumah yang kokoh namun juga indah, kepekaan mendapatkan kesan wujud yang dapat diindera ini harus terus dilatih dalam diri setiap arsitek. Pada akhirnya, kesan wujud inderawi yang dibangun dapat menghindarkan kebosanan dan membentuk empati penghuni rumah sehingga dapat tercipta suasana yang harmonis dan nyaman.

Artikel Terkait

Contoh Membangun Kesan Visual dalam Desain Rumah
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email